Powered by Blogger.

Search

Showing posts with label tips mendaki gunung. Show all posts
Showing posts with label tips mendaki gunung. Show all posts
Thursday, April 18, 2013

misteri gunung ciremai

Satu lagi pendaki Gunung Ciremai jadi tumbal. Nurdiyanto, pelajar SMP 1 Jatibarang, Indramayu tewas di puncak Ciremai. Ia tewas setelah dihantam badai di ketinggian 2.400 di atas permukaan laut. Seperti apa keangkeran Gunung Ciremai?

PARA remaja yang mendaki Gunung Ciremai ini merupakan alumni SMP 1 Jatibarang, Indramayu. Mereka mendaki gunung dalam rangka reuni. Empat orang di antara mereka saat ini bersekolah di SMK 1 Jatibarang dan lima lainnya bersekolah di SMA Sliyeg, Indramayu. Kesembilan pendaki ini mulai mendaki Gunung Ciremai Selasa (26/6/2007) siang.
Rabu (27/6/2007) dinihari, mereka sampai di puncak gunung. Rabu sore mereka turun dari puncak. Saat turun dari puncak, Nurdiyanto, siswa SMK 1 Jatibarang, tiba-tiba mengalami sesak napas di Pos Cigorowong. Karena tidak kuat berjalan, Nurdiyanto ditandu temannya. Sampai di Pos Gua Lawet pukul 03.00 WIB, Kamis (28/6/2007), mereka berhenti, karena dihantam badai. Mereka berkemah menunggu badai reda. Begitu badai reda, mereka melanjutkan perjalanan. Pukul 07.00 WIB, mereka kaget ketika melihat Nurdiyanto tidak bernapas.
Tragisnya, delapan rekannya tak kuat membawa pulang jenazahnya. Untuk mencapai pos perkampungan perlu 10 jam perjalanan. Mereka turun, sementara jenazah Nurdiyanto ditinggalkan. Pukul 17.00 WIB, Jumat (29/6/2007), 15 orang dari LSM AKAR dan KURPALA menuju Pos Gua Lawet. Tim SAR gabungan tersebut menemukan mayat Nurdiyanto sudah kaku dan dalam keadaan telentang.
Mistik Gunung Ciremai
Gunung Ciremai yang berketinggian 3078 meter di atas permukaan laut memiliki banyak jenis tumbuhan. Mulai dari pohon pinus, pohon seruni, dan dan pohon kopi. Jenis margasatwa pun banyak berkeliaran. Dari sekian banyak tumbuhan dan jenis burung ada beberapa hewan yang dipercaya mempunyai kekuatan mistik. Mendekati puncak, banyak beterbangan ayam alas dengan bulunya yang bersih mengkilat. Gunung Ciremai identik dengan Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo, penyebar Islam di Jawa Barat.
Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini bertapa di puncak Ciremai. Ketika itu, bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang, dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan. Tempat tapa dan pertemuan para wali itu bernama Batulingga dan diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai tempat ngalap berkah memberi manfaat dan membantu orang-orang yang dalam kesulitan.
Nyi Linggi dan Macan Tutul
Satu misteri yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut Maman, salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.
Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua binatang kesayangannya yaitu macan kumbang. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan. Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara dua temannya yaitu macan tutul hilang entah ke mana. Kabarnya masyarakat setempat menemukan mayat Nyi Linggi. Kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga, yaitu sosok Nyi Linggi dan dua macan tutul sering menampakkan diri.
Cikal Bakal Nenek Moyang
Selain sebagai tempat bertapanya Sunan Gunung Jati, ternyata Gunung Ciremai sejak ribuan tahun silam telah dihuni oleh manusia purba. Masyarakat Kuningan dan sekitarnya terutama mereka yang hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai merasa bangga. Mereka yakin bahwa asal-usul orang-orang Jawa Barat datangnya dari Gunung Ciremai. Keyakinan tentang hal ini diperkuat oleh ditemukannya beberapa benda bebatuan yang diyakini zaman Batu Besar. Umurnya sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.
Pada tahun 1972 ditemukan batu besar berbentuk peti mati. Penemuan itu mengandung makna bahwa di kaki Gunung Ciremai telah dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Dipercaya pula bahwa arwah nenek moyang berkumpul dan sering menampakkan diri. Para ahli peneliti sepakat bila wilayah Kuningan Gunung Ciremai merupakan tempat bermukim manusia tua usia. Mereka memuja arwah nenek moyang untuk meminta berkah kesuburan tanah, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Injak Bumi Hindari Hantu
Maman (juru kunci Ciremai yang mengantar posmo ke puncak Ciremai) selalu menghentikan langkahnya dan mengucapkan Assalamualikum ketika memasuki pos. Menurut Maman, jika ingin selamat dan tidak diganggu oleh dedemit nakal injak bumi sebanyak tiga kali lalu ucapkan salam. Ini bermakna bahwa penghuni pos atau dedemit penguasa tidak merasa tersinggung oleh datangnya manusia. ‘’Di sini (Ciremai) banyak manusia jadi korban. Tidak hanya manusia yang mati, tapi juga kuda. Mereka tidak kuat melaksanakan tugas yang dibebankan penjajah Belanda, hingga menemui ajalnya,’’ kata Maman.
Misteri Jalak Hitam
Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih misteri keberandaannya, yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam.
Maman yang mengaku naik ke puncak 3 kali setiap bulan, sampai sekarang mengaku belum tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan, juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu. Pengasinan berarti asin. Khusus bagi masyarakat Linggarjati bermakna bahwa siapa saja yang ingin mencapai puncaknya dengan cepat dan selamat sampai di rumah diharuskan membawa ikan asin.
Enam Belas Jam Menuju Puncak
Gunung Ciremai diapit dua kabupaten yaitu Kuningan sebelah timur dan Majalengka sebelah barat. Untuk mencapai puncak Ciremai bisa melalui tiga jalur yaitu Linggarjati dari arah timur, Pelutungan dari arah selatan, dan Majalengka dari arah barat. Medan paling berat dan menguras tenaga dan juga sangat berbahaya adalah jalur dari sisi timur melewati Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Jarak tempuhnya kurang lebih 8 km, 90 persen jalannya terjal.
Gunung Ciremai termasuk salah satu gunung paling berat di tanah Jawa. Masyarakat setempat dan juga para pendaki menyebutnya jalur maut. Untuk mencapai puncaknya butuh waktu sekitar 12 sampai 16 jam perjalanan. Tergantung kekuatan fisik pendaki. Gunung Ciremai memang tidak terlalu tinggi, hanya 3.078 mdpl. Namun start pendakian dimulai dari ketinggian sekitar 750 mdpl, maka perjalanan cukup panjang. Dengan demikian, sisa perjalanan menuju puncak Ciremai sekitar 2.350 meter garis vertikal atau sekitar 8 km melalui jalur. Perlu diketahuil, dari semua gunung yang ada di tanah Jawa hanya Gunung Ciremai-lah yang start pendakiannya dimulai dari ketinggian 750 mdpl. Jalur dakinya tidak ada jalan datar, 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringannya antara 70 sampai 80 derajat.
Pantangan di Gunung Ciremai
Menurut juru kunci gunung, pantangan di Gunung Ciremai tidak boleh mengeluh, memegang lutut, kencing dan buang air besar sembarangan. Setiap memasuki pos diharuskan mengucapkan salam sebagai tanda minta izin masuk dan pertanda kesopanan. Menurut Maman, setiap pos yang jumlahnya 12 pos banyak dihuni dedemit. Ucapan salam tidak hanya ketika datang tapi juga saat meninggalkan gunung. hartono


nahh buat para pendaki yang ingin mendaki gunung sebaiknya cari dahulu informasi mengenai gunung yang ingin didaki, apalagi gunung yang akan kita daki memiliki misteri yang sangat lekat. buat yang ingin mendaki di gunung ciremai sebaiknya jaga perilaku saat mendaki karena katanya di sana banyak penghuninnya terutama saat sudahdi kawasan batu lingga,....
mungkin itu saja yang bisa saya bagikan,... semoga bermanfaat,....
Wednesday, April 17, 2013

pendaki gunung ciremai meninggal dunia akibat kelelahan

KUNINGAN, (PRLM).- Ian Ahdiansyah (22) mahasiswa tingkat akhir jurusan keperawatan Sekolah Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU) meninggal dunia dalam perjalanan turun sehabis mendaki puncak Gunung Ciremai di Kab. Kuningan, Jumat (4/1/13) siang. Warga Dusun Manis, RT 2 RW 1, Desa Segong, Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan itu, diduga mengalami kelelahan dan kedinginan di gunung dan meninggal dunia ketika tengah dilarikan dari Pos Pendakian menuju rumah sakit Cigugur, Kuningan.
Menurut keterangan yang diperoleh "PRLM" dari Pos Pendakian Gunung Ciremai Jalur Palutungan, korban berangkat mendaki Ciremai bersama empat orang rekan sekampusnya. Masing-masing Ipang Abdulharis (21), Nursoleman (21), Sastriadi (22), dan Asep Triana (22).
Kelompok pendaki beranggotakan lima orang mahasiswa tingkat akhir jurusan Keperawatan STIKKU itu, berangkat mendaki dari Dusun Palutungan Kamis (3/1) siang sekitar pukul 12.00 WIB., setelah sebelumnya mendaftar dulu dan membayar tiket pendakian di Pos Palutungan. Saat itu mereka melakukan perjalanan pendakian langsung menuju puncak Ciremai berketinggian sekitar 3.078 meter di atas pemukaan laut (mdpl).
"Kami berlima kemarin tiba di puncak Ciremai malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Di puncak kami hanya sebentar. Setelah masak dan makan, kami berlima segera turun lagi menuju Pos Palutungan," ujar Ipang dengan nada bicara terbata-bata menahan kepiluan atas kepergian rekannya itu, di kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Resort Cigugur, Jumat (4/1/13) sore.
Namun, menurut Ipang dan tiga rekannya, saat tiba di Pos Pasanggrahan (2.450 mdpl), Ian yang baru pertama kali mendaki gunung mengeluh menyatakan mengantuk dan sakit kepala. "Karena itu, kami memutuskan beristirahat dan menggelar tenda di Pasanggrahan, dan Ian pun sempat tidur beristirahat selama sekitar satu jam di dalam tenda," kata Ipang, dibenarkan tiga rekannya.
Setelah itu, Ian terbangun dari tidurnya dan menyatakan sudah bugar kembali. Atas kesepakatan bersama, malam itu Ian bersama empat rekannya lalu membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan turun gunung.
Dalam perjalanan melanjutkan turun melewati sejumlah pos atau tempat peristirahatan pendaki, menurut mereka, kondisi fisik Ian terlihat stabil melangkah tanpa keluhan mengimbangi rekan-rekannya. Bahkan, masih mampu membawa ransel berisi perelengkapan mendaki serta sisa logistik perbekalannya.
Akan tetapi, ketika sudah melewati Pos Kuta (1.575 mdpl.) mendekati Pos Cigowong (1.450 mdpl.)Ian kembali mengeluh ngantuk dan sakit kepala, bahkan kondisi fisiknya melemah hingga tidak mampu lagi berjalan sendiri. "Karena pos Cigowong sudah sangat dekat, saat itu Ian kami gendong ke Pos Cigowong. Kemudian setibanya di Pos Cigowong kami segera menggelar tenda dan menidurkan Ian di dalam tenda," ujar Ipang, seraya menyebutkan mereka tiba di Pos Cigowong menggelar tenda Jumat (4/1/13) dini hari sekitar pukul 1.00 WIB.
Namun, beberapa saat kemudian di dalam tenda itu Ian mengalami pingsan dan hingga menjelang terbit matahari, tak kunjung siuman. Khawatir terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap Ian, dua rekannya segera turun ke Palutungan dan meminta bantuan kepada Sandi Aditia (Baron) salah seorang anggota Mitra Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) Palutungan.
Mendapat laporan tersebut, Baron disertai 10 personel PPGC Palutungan segera berangkat mendaki ke Pos Cigowong. "Ketika kami tiba di Cigowong sekitar pukul 8.00 WIB., kami menemui Ian dalam kondisi pingsan ditunggui tiga rekannya di dalam tenda," ujar Baron.
Baron bersama 10 rekannya, kemudian mengevakuasi Ian ditandu turun dan tiba di Pos Palutungan, sekitar pukul 11.15 WIB., dan langsung dilarikan menuju rumah sakit Sekarkamulyan Cigugur menggunakan mobil angkutan umum. Saat dievakuasi ke Palutungan hingga dinaikan ke mobil yang membawanya, menurut Baron dan Ipang, Ian masih bernafas. Namun sebelum tiba ke rumah sakit tersebut, Ian keburu menghembuskan nafas terakhirnya.
Kasus kematian pendaki tersebut juga dibenarkan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan dari BTNGC Mokh Rifdwan Effendi. Ia menyatakan, Ian dan kelompoknya mendaki Ciremai dengan cara mendaftar resmi. "Penyebab pasti kematiannya sementara ini belum kami ketahui, dan saat ini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian," ujar Mokh Ridwan, seraya menyatakan pihaknya akan segera mengurus santunan asuransi atas kematian pendaki tersebut.
Sementara itu, jenazah Ian Jumat siang telah dibawa pulang keluarganya ke Karangkancana untuk dimakamkan di alamat desanya. Sementara, empat rekannya Jumat sore telah dijemput dan dibawa pulang oleh Dosen Pembina Kemahasiswaan STIKKU Didin Saefudin, dari kantor BTNGC Resort Cigugur. (A-91/A-108)***

sumber : pikiran rakyat
Monday, March 4, 2013

mendaki gunung ciremai 3078mdpl lewat jalur palutungan

Gunung Ciremai, gunung tinggi di Jawa Barat, di wilayah Kuningan adalah gunung yang berbatasan langsung dengan laut, jadi jika mendaki Ciremai, benar - benar ukuran mdpl yang sesungguhnya. Banyak jalur pendakian menuju Ciremai, tetapi kali ini jalur Palutungan akan kami ketengahkan. Dimulai dari Basecamp menuju Cigowong atau pos 1.

Basecamp - Cigowong

Jalur antara basecamp menuju cigowong relatif masih mudah. Jalanan masih landai, track bervariasi, kadang lebar kadang menyempit, namun jelas. Yang perlu diperhatikan adalah banyaknya persimpangan spanjang jalur ini. Namun tidak perlu khawatir, banyak penunjuk berupa plang - plang yang menempel di pohon - pohon. Perjalanan menuju cigowong memakan waktu rata - rata 2 jam, dengan kecepatan normal. Jalur dibuka dengan melewati ladang-ladang penduduk, begitu memasuki pintu rimba, pendaki akan melewati semak - semak yang cukup rimbun. Kondisi hutan sepanjang jalur didominasi hutan homogen pinus dan pohon - pohon besar, suasana cukup teduh. Jalur relatif bersih kecuali di beberapa shelter sebelum cigowong, sampah sisa pendaki cukup banyak.

Cigowong adalah sebuah shelter yang luas, bisa memuat puluhan tenda. Kondisi shelter ini cukup nyaman, banyak pohon besar yang rimbun dan terdapat sumber air berupa sungai kecil, yang terus mengalir walau kemarau tiba. Ketinggian tempat ini 1450 mdpl. Dianjurkan untuk mengambil air di sini, karena cigowong adalah sumber air terakhir, sepanjang jalur menuju puncak tidak ada lagi sumber air, mungkin hanya mata air - mata air temporari seperti di Gua Walet.



Cigowong - Kuta

Pendaki membutuhkan waktu kurang dari setengah jam untuk melahap jalur ini. Jalur didominasi oleh hutan heterogen yang cukup rimbun, banyak pohon - pohon besar, kondisi jalur cukup jelas dan basah. Tidak banyak persimpangan. Pejalanan cukup melelahkan, disebabkan oleh trek yang mulai menanjak. Kondisi lingkungan cukup bersih. Kuta berada pada ketinggian 1575 mdpl, Shelter ini cukup luas, bisa memuat dua tenda pendaki ukuran 4 - 5 orang.

Kuta - Pangguyangan Badak

Memakan waktu sekitar 45 menit. Jalur bervariasi, kadang landai, kadang menanjak habis-habisan. Kanan - kiri jalur berupa jurang yang cukup curam. Kondisi jalur cukup bersih, namun seperti biasa, di shelter - shelter sebelum Pangguyangan Badak sampah lumyan banyak. Jalur lebar, ada persimpangan, namun ada keterangan jelas mengenai jalur yang benar. Biasanya terdapat plang penunjuk arah atau jalur yang salah ditutup kayu. Pangguyangan Badak adalah shelter yang cukup luas, cukup untuk mendirikan 8 hingga 10 tenda. Tempatnya cukup terbuka, perlu waspada terhadap pacet. Ketinggian pada pada plang adalah 1800 mdpl.

Pangguyangan Badak - Arban

Jarak Pangguyan Badak menuju Arban cukup jauh, memakan waktu 1 jam lebih. Cukup menguras tenaga, jalur mulai menanjak konstan. Pendaki perlu berhati - hati, banyak pohon tumbang dan akar - akar pohon yang muncul liar. Bila diperhatikan secara seksama, akan terdengar suara sungai yang bersal dari lembah di kanan jalur. Jalur cukup jelas namun basah, ciri khas gunung - gunung di Jawa Barat. Arban berada di ketinggian kurang lebih 2000 mdpl. Menurut kabar burung, tempat yang berkapasitas 3 - 5 tenda ini, cukup angker. Dilarang berbicara sembarangan di sini.

Arban - Tanjakan Asoy

Seperti namanya, jalur ini benar - benar assoy, tanjakannya menggila, liar, buas, tak berujung. Kondisi jalur cukup jelas, bervariasi terkadang cukup lebar, kadang menyempit. Dihiasi oleh hutan yang merimbun dan heterogen. Jalur pendakian relatif bersih dari sampah. Tanjakan assoy adalah tempat yang cukup luas, cocok digunakan untuk bemalam. Tempatnya luas, cukup untuk mendirikan 4 - 6 tenda sekaligus. Ketinggian 2108 mdpl.

Tanjakan Asoy - Pasanggrahan

Memakan waktu hampir 1 jam. Perjalanan sangat sangat menguras tenaga sekali. Jalur terus menanjak tampa ampun, meski cukup jelas dan minim persimpangan. Pendaki perlu berhati - hati, jalur cukup basah dan akan menjadi sangat licin bila hujan datang. Pasanggrahan bisa memuat sekitar 4 - 5 tanda. Dulu terdapat plang atau papan nama yang menunjukkan tempat tersebut adalah pasanggrahan, tapi sekarang telah tumbang. Tanda medan yang tersisa adalah pohon tumbang di tengah shelter.

Pasanggrahan - Goa Walet

Jalur tanpa toleransi, tidak ada pilihan lain selain jalan menanjak. Didominasi oleh batuan-batuan besar dan sisa - sisa lava yang membeku. Perlu kehati-hatian. Vegetasi mulai berubah, tumbuhan mulai jarang. Terdapat persimpangan di ujung jalur, nila turun ke kanan menuju gua walet, bila jalan terus ke atas, akan sampai di puncak. Di Goa Walet terdapat mata air yang bersifat angin - anginan, bila musim hujan tiba, air cukup melimpah, namun jadi kering saat kemarau. Merupakan tempat yang ideal untuk ngecamp. Terdapat bentukan gua yang cukup dalam. Di depan gua ada area yang cukup luas, bisa memuat lebih dari 8 tenda. perjalanan memakan waktu kurang dari 1 jam. Bila berjalan sedikit lagi ke atas pendaki akan bertemu satu pertigaan lagi. Merupakan pertemuan antara jalur maja ( majalengka ) dan Palutungan. Bila ingin ke Majalengka, ambil jalan turun di sebelah kiri jalur.


Goa Walet - Puncak

Jalur menuju puncak didominasi oleh batu - batuan terjal dengan tanjakan yang curam. Vegetasi, pepohonan, mulai langka. Batas vegetasi menjadi jelas. Dari Goa Walet menuju puncak Ciremai dapat ditempuh dalam waktu setengah jam. Puncak gunung Ciremai menawarkan pemandangan yang memukau mata. Kaldera yang luas dengan kawah biru di tengahnya. Bentukan kawah terdiri dari batuan vulkanis dan sisa - sisa lava yang membeku hasil letusan masa lalu. Dari puncak Ciremai, bila tidak ada kabut, kita dapat menyaksikan kemegahan gunung Slamet, Sindoro, dan Sumbing di ufuk timur serta garis pantai Cirebon yang melengkung cantik.

Terdapat beberapa ruang yang cukup lapang, bisa digunakan untuk membuka tenda. Namun tidak dianjurkan untuk bermalam di puncak. Angin cukup kencang dan suhu yang teramat dingin dapat mengakibatkan hal - hal yang tidak diinginkan terjadi. Di puncak Ciremai terdapat banyak sekali ”in Memoriam ”, untuk mengenang dan menghormati para pendaki yang meninggal di sana. Ketinggian 3078 mdpl.

 sumber : belantara indonesia
Wednesday, February 20, 2013

teknik pendakian gunung (pemula)


Belajar dari pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan kita, banyak sekali memberikan manfaat serta pelajaran – pelejaran penting mengenai kehidupan. Belajar ga harus lewat buku atau media lainnya, tetapi belajarlah dari Alam karena disana lah gambaran kehidupan yang sesungguhnya.
Sebagai Pecinta Alam semua didik dalam bagaimanapun keadaan, situasi dan kondisi..dari situlah kita mengenal survive. Kali ini saya akan memberikan sedikit Tips melakukan Pendakian Gunung, karena jangan salah????Dalam Pendakian Gunung kita ga boleh sembarangan apa lagi sampai Asal, karena banyak para pendaki yang sok tahu yang ujung – ujungnya malah dicari ( karena ngilang)..hhaha
Disini akan di bahas mulai dari Persiapan Pendakian sampai persiapan turun pendakaian, mudah – mudahan aja bermanfaat….check this out..hahaa
A. Persiapan Pendakian
Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan adanya kendala dan ancaman musibah, baik yang disebabkan oleh situasi dan kondisi alam maupun oleh kelalaian manusianya sendiri, maka perlu disusun rencana pendakian, minimal tidak mengabaikan faktor-faktor sebagai berikut :
1. Informasi jalur, medan dan cuaca.
Menghimpun informasi dari berbagai sumber akan dapat membantu kelancaran dan kemanan perjalanan pendakian. Sumber informasi didapat antara lain :
a. Pendaki yang sudah berpengalaman.
b. Tulisan tentang pendakian di media massa.
c. Berita musibah dalam pendakian.
d. Instansi terkait (PHPA/Taman Nasional/BKSDA)
e. Aparat desa/kecamatan setempat dan penduduk yang terdekat dengan lokasi pendakian.
2. Keselamatan dan kondisi fisik.
Mendaki gunung bukanlah kegiatan darmawisata, tetapi cenderung merupakan olahraga petualangan di alam bebas dan menguras tenaga. Oleh karena itu, setiap orang yang kan melakukan pendakian harus sehat jasmani dan rohani serta prima secara fisik.
Jangan sekali-kali memaksakan diri jika kesehatan dan kondisi fisik memang sedang lemah, karena akan berakibat fatal dalam pendakian. Bagi calon pendaki wanita yang sedang haid/menstruasi sebaiknya tidak melakukan pendakian demi keamanannya.
3. Biaya perjalanan.
Untuk mencapai lokasi pendakian, tidak terlepas dari sarana transportasi. Perjlanan dari dan ke tempat tujuan yang herus menggunakan jasa angkutan umum, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bagi pendaki yang merasa dirinya sudah sebagai anak “anak gunung” yang terbiasa hidup dalam segala cuaca dan tahan bantingan, tidak akan menjadi masalah kalau ternyata harus bermalam di terminal/stasiun. Mereka tidak perlu bermalam di hotel atau penginapan. Akan tetapi dalam menghadapi tariff angkutan umum yang sudah pasti dan tidak bias ditawar lagi, maka akan menjadi masalah apabila tidak membawa dana yang cukup.. oleh karena itu, dalam merencanakan pendakian, pos pengeluaran untuk biaya transportasi harus dikalkulasi secara benar.
4. Kelengkapan identitas diri.
KTP, kartu pelajar/mahasiswa atau identitas lainnya dan beberapa lembar foto copynya harus dibawa, karena akan diperlukan ketika melapor/meminta izin kepada pihak berwenang. Sehingga apabila terjadi musibah, akan memudahkan mendapat pertolongan dan identifikasi. Bila memungkinkan, sebaiknya pendaki memakai kalung identitas yang terbuat dari logam.
5. Perlengkapan pakaian dan logistik.
a. Perlengkapan pakaian
- T-shirt dan jaket yangn dapat menyerao keringat. Untuk memudahkan identifikasi dalam pencarian bila terkena musibah, sebaiknya pilih yang berwarna kontras.
- Usahakan jangan memakai celana jeans karena akan menyerap dingin dan akan menjadi berat jika basah. Sebaiknya memakai celana kain model tentara yang banyak kantongnya.
- Sepatu gunung dan sandal gunung, kaos kaki panjang, sarung tangan wol, topi kupluk, celana pendek, kemeja flannel, kain sarung, handuk kecil, sabun mandi dan sikat gigi beserta pasta gigi.
- Sleeping bag dan matras, ponco/jas hujan dan plastic lembaran.
- Lampu senter (cadangan batrai jangan lupa), beberapa gulung tali pramuka, pisau lipat serbaguna.
- Kompor gas, mesting/panic masak tentara, korek api gas dan lilin, piring plastic beserta cangkir dan sendok makan.
- Obat-obatan P3KP.
- Tenda, dum/bivak, peta topografi, kompas dan peluit.
- Perlengkapan survivor seperti jarum jahit, benang, silet, gunting, karet ban mobil, mata kail dan kailnya,
- Pakaian cadangan, baterai dan kamera dimasukan ke dalam kantong plastic agar tidak lembab terkena embun hujan.
b. Perlengkapan logistik
- Makanan dan minuman yang biasa sering dibawa pendaki gunung antara lain : mie kering, roti, biscuit, telur asin, minuman serbuk kemasan, gula pasir auat aren, garam dapur, minyak ikan, madu, abon dan susu.
- Air minum kemasan botol plastic. Apabila sudah kosong botolnya bias dimanfaatkan lagi untuk tempat air.
- Kalau bias membawa beras, asalkan bias mendapatkan air yang cukup untuk memasaknya.

Catatan :
1. Bawa logistik secukupnya sesui dengan lamanya pendakian.
2. Jangan membawa makanan yang mudah basi.
3. Logistik jangan dipusatkan pada satu orangn saja.
4. Untuk seorang pendaki rata-rata membutuhkan 400 – 500 kalori per hari.
5. Hindari minuman beralkohol agar tidak lepas control dan hilang keseimbangan.

B. Teknik Packing
Packing adalah menyusun perlengkapan ke dalam ransel. Kenyamanan dan efisiensi ransel menempel pada tubuh selain ditentukan secara langsung oleh desain ransel juga ditentukan oleh cara penyusunan barangnya. Yang menjadi dasar Packing adalah keseimbangan beban. Ini bergantung kepada cara kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa, sehingga kaki dapat berjalan secara efisien.
Dalam batas batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih nyaman saat menggendong beban. Namun bagaimanapun canggihnya desain ransel yang kita miliki, akan sedikit artinya apabila kita tidak mampu menyusun barang dengan baik.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Tempatkanlah barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin ke badan. Barang barang yang relatif ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan di bagian bawah.
2. Letakkan barang barang yang sewaktu waktu diperlukan (ponco, alat P3K, kamera,dll) pada bagian atas atau pada kantung kantung luar ransel.
3. Kelompokkan barang barang dan masukkan ke dalam kantung kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur atau pakaian cadangan, kertas kertas, buku, dll.
4. Masukan benda benda yang mudah pecah ke dalam wadah yang kuat dan diisi juga dengan benda benda yang dapat menahan goncangan, seperti kertas, kain, busa, dll.
5. Matras tidur yang dimasukkan kedalam ransel dapat membantu mempertahankan bentuk ransel dan mempermudah penyusunan barang ke dalam ransel, sehingga menjadi padat, rapi dan efisien.
6. Bila perlu bawalah tas tambahan yang lebih memudahkan kita untuk menjangkau barang barang yang diperlukan, seperti tas pinggang, tas sandang, dll

C. Pendakian
Nah..disinilah intinya pada saat Pendakian, banyak yang harus diperhatikan oleh kawan – kawan semua..Beberapa hal yang harus di simak



1. Ketahanan mental dan percaya diri
Jalur pendakian bukanlah jalan raya bebas hambatan, tetapi merupakan jalan setapak dengan kondisi bervariasi dan terkadang membingungkan dan membosankan. Belum lagi harus melewati hutan hujan tropis yang masih jarang dilewati yang penuh dengan semak belukar, padang alang-alang, sabana yang luas, batang pohon yang tumbang dan menutup jalur, jembatan batang pohon di atas jurang, melewati tebing, dan jurang yang terjal. Terkadanng juga dihadang oleh medan lereng pasir dan batuan vulkanik yang labil, tanah berdebu, jalur licin dan rawan longsor, tiupan angin yang kencang serta perubahan cuaca panas dan dingin yang menyenngsarakan.
Beruntung bila selama pendakian tidak dihadanng oleh binatang buas, seperti harimau, ular, babi hutan dank era. Untuk mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu, tentu saja harus diimbangi dengan mental yang kuat, semangat tinggi dan rasa percaya diri serta tidak lupa berdo’a memohon perlindungan kepada Tuhan YME.
Usahakan selama perjalanan pendakian jangan banyak mengeluh dan banyak bertanya jauh dekatnya lokasi tujuan. Hal tersebut secara psikologis dapat menurunkan semangat dan menimbulkan rasa putus asa serta tidak percaya diri, terutama bagi pendaki wanita dan pemula atau pendaki yang baru pertama kali melakukan pendakian di gunung tersebut.
2. Disiplin dan konsentrasi
Di setiap gunung yang menjadi sasaran pendakian, pada umumnya terdapat jalur setapak dengan kondisi yang bervariasi. Pemandu arah atau jalur adalah rambu-rambu pada pohon yang telah dibuat oleh para pendaki terdahulu, OPA atau petugas PHPA.
Rambu-rambu arah dalam hutan bias berupa tandah panah yang terbuat dari guntingan seng, torehan cat atau goresan pada batang pohon ataupun ikatan tali raffia pada dahan pohon. Berjalanlah pada jalur resmi atau yang sudah sering dilewati oleh pendaki lain. Buat tanda jejak dengan ranting pohon bila menemui jalur yang meragukan, seperti jalur yang bercabang atau sudah tertutup semak, sehingga jika ingin kembali pada jalur awal tidak akan kehilangan jejak.
Kalau selama pendakian tidak ingin tersesat sebaiknya jangan coba-coba membuat jalur baru atau jalur pintas sendiri. Kecuali bagi pendaki senior yang telah berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang SAR (search and resque).
3. Memelihara kekompakan
Rasa kebersamaan dan kekompakan sesame pendaki dalam suatu pendakian mutlak diperlukan. Toleransi dan keakraban tidak terbatas dengan sesame teman satu tim/rombongan sendiri, tetapi juga dengan para pendaki di luar rombongannya sendiri. Solidaritas perlu diciptakan karena berada dalam kawasan alam bebas dan rawan bahaya, sama-sama akan menghadapi masalah yang tidak jauh berbeda, seperti sakit, kekurangan makanan/minuman, kecelakaan dan bias mungkin kematian.
4. Berjalan dan langkah kaki
Bila melakukan pendakian secara berombongan, rombongan dibagi menjadi beberapa regu. Tiap regu (7-10 orang) dipimpin oleh senior atau orang yang sudah mengenal jalur dan medan sebagai pemandu. Dalam setiap regu pendaki wanita dan pria dicampur. Pada jalur yang sempit atau punggung juranng harus ekstra hati-hati, langkah kaki diperlambat tidak saling mendahului dan berjalan mengikuti jalur resmi yang sudah ada. Ingat konsentrasi harus terpusat pada jalur dan kondisi medan sekitar terutama dalam pendakian di malam hari.
Untuk mengatur kondisi fisik dari kelelahan dalam melakukan perjalanan menanjak, sebaiknya setiap 1 jam berjalan, berhenti sejenak tidak lebih dari 10 menit. Pada saat itu dimanfaatkan untuk menambah kalori dengan memakan makanan ringan dan minum air sehemat mungkin.
Irama langkah kaki selama dalam pendakian hendaknya disesuaikan dengan kebiasaan langkah sendiri. Jangan memaksakan mengikuti langkah teman pendaki yang lain, apalagi yang langkahnya cepat dan panjang. Berjalanlah dengan perasaan senang dan optimis. Tujuan utama akan sampai dipuncak dan kembali turun dengan sehat dan selamat.
Ketika berjalan di medan berbasir menuju puncak seperti gunung Semeru, kaki sering melorot dan ambles ke dalamnya. Adapun tekniknya adalah begitu kaki bergerak akan melorort, segera buka kea rah luar kedua belah telapak kaki dan injaklah batuan vulkanik yang diperkirakan kuat dan tidak akan longsor.
5. Membawa beban dalam ransel
Pergunakanlah ransel yang ukurannya tidak terlalu tinggi bila sudah diisi penuh perbekalan. Hal ini akan menyulitkan serta menghambat perjalanan bila harus lewat di bawah batang pohon tumbang. Untuk menjaga keseimbangan dan memusatkan titik beban di kedua belah pundak, sebaiknya titik berat beban jatuh di bagian atas punggung.
6. Pendakian rombongan
Membawa rombongan dalam suatu pendakian akan menghadapi banyak kendala, baik yang dating dari dalam rombongan sendiri maupun yang disebabkan oleh kondisi alam. Apalagi bila diantara anggota rombongan belum ada yang mengenal kondisi medan dan jalur. Usahakan untuk sekurang-kurangnya menguranngi kendala yang akan terjadi, yaitu dengan terlebih dahulu mengadakan survey dan orientasi medan oleh beberapa anggota rombongan. Maksudnya untuk mendata situasi dan kondisi medan, jalur, lokasi untuk kemah, lokasi sumber air, dan member rambu-rambu arah serta tanda bahaya. Dengan memperhitungkan waktu tempuh, maka dapat memperkirakan persediaan logistik dan perlengkapan yang diperlukan. Demikian juga mengenai transportasi dan biaya perjalanan.
7. Waktu pendakian
a. Pendakian bias dilakukan pada siang atau malam hari. Bagi seorang pendaki pemula yang belum mengenal medan dan jalur sebaiknya melakukan pendakian pada pagi hari atau bila malam hari bias bergabung dengan pendaki lain yang sudah berpengalaman.
b. Bila terjadi ktebal, hujan maupun badai sebaiknya menunda pendakian atau membatalkannya, terutama pendakian ke puncak gunung yangn lerengnya didominasi pasir dan batuan vulkanik atau pada jalur yang rawa longsor.
c. Selama perjalanan pada malam hari, jagalah selalu kewaspadaan dan konsentrasi pada jalur dan kondisi medan sekitarnya. Terkadang pendaki yang tidak konsentrasi akan kehilangan jalur, sedangkan keluar dari jalur resmi akan berakibat fatal, tersesat dan mungkin juga bias masuk jurang.

D. Teknik berjalan di gunung
Pada dasarnya, teknik berjalan yang benar adalah untuk mengaja kesimbangan tubuh. Keseimbangan ini diperlukan terutama untuk mengontrol semua gerakan langkah kita lebih kuat dan kokoh. Ini akan memberikan kenikmatan, kebebasan, serta keluwesan bagi pendaki gunung.
1. Metode Lock-Knee
Cobalah berdiri di anak tangga dengan kedua kaki, lutut didorong ke belakang, sehingga anda dalam posisi tegak. Langkahkan kaki kanan anda keanak tanggal berikutnya. Waktu mengangkat badan, saat kedua kaki dalam posisi sama tinggi, kaki kanan anda yang sedang menahan berat badan langsung anda kunci dengan cara menekan lutut ke belakang. Lalu teruskan dengan kaki kiri ke anak tangga berikutnya.
Praktekanlah metode di atas saat anda melakukan perjalanan. Berjalan dengan metode lock-oknee dengan sendirinya medorong tubuh untuk selalu tegak. Hal ini sangat mengunutngkan di medan yang miring. Posisi tubuh yang tegak menambah mantap pijakan kaki serta menjaga keseimbangan badan. Tetapi jkika tubuh berkurang. Ini memudahkan terpeleset, terutama di medan berkerikil.
2. Berjalan Pelan
Berjalan pelan tetapi dengan langkah yang kuat dan sedikit beristirahat akan lebih baik daripada berjalan terlalu cepat tetapi sering berhenti untuk beristirahat. Seorang anggota yang baik akan berjalan dalam waktu yang lama tanpa istirahat – bisa dua sampai tiga jam.
Jika kita melakukannya dan tidak merasa capai, itu menandakan bahwa stamina kita baik. Tetapi semuanya memerlukan latihan dan pengalaman. Jika kita beristirahat setiap setengah jam kurang, tandanya kita terlalu capai dan memaksakan diri. Atau dalam satu jama kita sering berhenti untuk istirahat berarti kita berjalan terlalu cepat. Jika anda perlu istirahat, pilihlah tempat yang nyaman, indah serta leluasa. Ini akan membantu mengurangi rasa lelah.
3. Perjalanan Turun
Sebelum melakukan perjalanan turun, terutama pada medan yang terjal, sebaiknya tali sepatu diikat lebih kencang. Ini akan membantu menahan bagian belakang kaki kita sengiinga bagian depan kaki dan jari-jari tidak sakit oleh tekanan bagian depan sepatu kita.
Perjalanan turun benar-benar akan menguji kekuatan otot-otot kaki, terutama jika membawa beban yang berat. Lakukan dengan hati-hati karena ada kecenderungan dorongan ke arah dpan akibat beban yang kita bawa yangh bisa mmeudahkan jatuh atau terguling.
Pada saat melangkah, jejakkan kaki sehingga seluruh tapak sepatu menyentuh permjukaan tanah. Usahakah badan selalu tegak dan condong ke arah depan berarti menghilanghkan keseimbangan dan mengurangi kekuatan pijakan kaki. Pilihlah jala yang landai, jangan memotong lewat lereng yang terjela. Beristirahatlah setelah melakukan perjalalan turun yang panjang untuk mengihindari cedera otot.

4. Berjalan dalam kelompok
Disarankan dibentuk oleh lebih dari 3 orang anggota. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa jika salah satu mendapat kecelakaan atau hal yang tidak diduga lainnya, maka yuang dua orang lagi dapat menolongnya.
Anggota yang terlalu banyak juga menambah persoalan tersendiri, mulai dari ukuran-ukuran perlengkapan yang dibawa sampai pada variasi irama jalan dan variasi kemauan setiap orang yang berbeda-beda. pIlihlah ketua regu jika hal ini dianggap penting. Buatlah keputusan seara demikratis. Sebaiknya sebuah regu tidak berpencar, kalaupun terpaksa perhatikan selalu pembagian perlengakapan dan bahan makanan.
Kegiatan-kegiatan di alam bebas biasanya penuh bahaya dan resiko, karena itu berjalan seorangan diri sebaiknya dihindari. Tak seorangpun tahu pasti apa yang akan terjadi pada dirinya.


Dikutip dari : http://www.dawyzdecker.co.cc/2011/01/teknik-pendakian.html
Tuesday, February 19, 2013

tips mempersiapkan perlengkapan pendakian

kali ini penulis akan berbagi tips untuk mempersiapkan perlengkapan untuk pendakian gunung.. tips ini saya dapatkan dari suatu blog y pokoknya Makasih yang udah share tipsnya.....
oke langsung saja !!!!
 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanan perlengkapan pendakian, seperti kondisi medan yang akan dihadapi ( baik itu jarak; ketinggian; iklim; flora dan fauna ), aktivitas apa saja yang akan dilakukan, dan lamanya perjalanan ( hal ini khususnya akan berguna dalam memperhitungkan perbekalan yang harus kita bawa ).

Untuk memudahkan dalam pemeriksaan kembali barang-barang yang kita bawa perlu sekali dibuat daftar perlengkapan atau check list. Dan seandainya kita bertindak sebagai kepala suku kewajiban pertama kita adalah memeriksa peralatan yang dibawa anggota dan untuk setiap anggota kelompok jangan membawa beban diatas beban maksimum ( 15 - 20 kg )

PERLENGKAPAN PRIBADI

  • Perlengkapan MCK
  • Perlengkapan menjahit darurat
  • Alat tulis
  • PPPK pribadi
  • Surat-surat pribadi

PERLENGKAPAN JALAN
Ada berberapa perlengkapan yang harus di bawa maupun di pake langsung, ketika kita menelusuri alam bebas. Biasakan savety prosedur agar kita bisa meminimallisir terjadinya hal yang tidak dinginkan karena secara tidak langsung perlengkapan ini sangat penting dan pokok untuk di gunakan.


Sepatu Trekking

Ada beberapa patokan untuk memilih sepatu yang baik. Sepatu gunung yang terbuat dari kulit atau sintetis serupa adalah pilihan tepat karena bahan ini kuat dan tahan lama, jangan memilih sepatu dari bahan kanvas karena bahan ini tidak tahan lama, gampang sobek, dan mudah lapuk apalagi dari bahan karet karena tidak bisa menyerap keringat.
Pilihlah sepatu dengan tumit dan sol yang berkembang serta kuat dengan ceruk yang dalam, karena dapat berguna untuk menahan laju badan ketika turun dan dapat digunakan untuk menjejakkan kaki dengan mantap di tanah berpasir, berbatu, dan becek. Untuk melindungi kaki dari lecet diperlukan penggunaan kaos kaki rangkap, maka pilihlah sepatu dengan nomor lebih besar dari ukuran biasanya.
Disamping itu sepatu harus mempunyai leher yang tinggi dengan berlapiskan bahan lunak dan tebal, sehingga mampu melindungi mata kaki dari resiko terkilir namun begitu jangan memilih leher yang terlalu tinggi karena akan menyebabkan sirkulasi udara terganggu.
Sepatu yang basah harus dikeringkan secara hati-hati. Tindakan yang salah adalah dengan menjemur sepatu secara langsung terkena terik sinar matahari atau mengeringkannya didekat api, karena hal ini akan menyebabkan sepatu menjadi keras. Khusus sepatu dari kulit harus selalu disemir agar kulit tidak rusak dan keras.
Pada waktu sepatu habis digunakan, jangan biarkan kaos kaki berada didalamnya karena akan menyebabkan bau dan ruangan tidak sehat. Bawalah tali sepatu cadangan, sebab tak jarang tali sepatu yang terpasang putus. Di alam bebas, bilamana kita beristirahat maka letakan sepatu diujung kayu yang ditancapkan sehingga mulutnya menghadap ke tanah.

Kaos kaki

Bawalah kaos kaki sebanyak mungkin agar kaki selalu kelihatan bersih, terutama apabila kulit lecet atau terluka sehingga tidak akan infeksi. Selalulah memakai kaos kaki rangkap. Pertama-tama pakailah kaos kaki dari bahan katun karena bahan ini dapat menghangatkan kaki dan mampu menyerap keringat. Kemudian diatasnya pakailah kaos kaki dari bahan wol, karena bahan ini baik untuk menjaga kehangatan kaki kendati dalam keadaan basah. Tetapi kaos kaki dari bahan wol mudah bergeser, maka diperlukan kaos kaki dari katun didalamnya untuk menghalangi geseran langsung. Untuk tidur sangat baik digunakan kaos kaki wol panjang atau kaos kaki sepak bola.

Gaiter

Gaiter dibuat dari bahan kedap air yang digunakan untuk mencegah agar batu kerikil, pasir, pacet, lintah, dan air tidak masuk kedalam sepatu atau celana. Gaiter ini digunakan mulai dari bawah sepatu sampai lutut sehingga akan menutupi antara sepatu dan celana. Disamping itu gaiter juga akan menjaga otot betis selama dalam perjalanan.

Jas Hujan

Untuk menahan hujan, jas hujan sangatlah praktis digunakan sebab jenis ini dapat sekaligus menutupi ransel. Ada dua macam bahan yang digunakan untuk jas hujan yaitu plastik dan nilon tebal.
Jas hujan dari plastik memang kedap air, tetapi mudah sekali sobek dan tidak menyerap keringat. Sedangkan dari bahan nilon tidak kedap air, tetapi juga tidak menyebabkan badan kepanasan. Bila hujan tidak terlalu lebat jenis nilon lebih baik digunakan.
Ada lagi jenis jas hujan yang berupa celana dan baju yang kedap air. Dengan model ini gerak kita akan lebih leluasa, namun masih diperlukan jas hujan / caver bag untuk menutupi ransel.

Sarung tangan

Sarung tangan merupakan perlengkapan yang tak kalah penting dalam melakukan penjelajahan. Sarung tangan yang baik adalah yang mampu menutupi pergelangan tangan ,karena dipergelangan tangan ini terdapat pembuluh darah tepat dibawah kulit, sehingga apabila pergelangan tangan tidak tertutup maka udara dingin akan menyentuh pembuluh darah tesebut.
Sarung tangan dari kulit atau sintetis serupa merupakan pilihan tepat, ini terutama untuk memegang golok ketika menebas ranting, memutuskan semak-semak berduri dan memeriksa batu-batuan sebelum kita injak disamping melindungi tangan dari panasnya nesting.
Sarung tangan dari wol sangat berguna untuk menghangatkan tangan ketika istirahat atau tidur. Dan lebih baik lagi menggunakan sarung tinju karena jenis ini akan menyatukan seluruh jari kecuali ibu jari.

Topi Lapangan

Topi lapangan adalah alat penutup kepala yang mempunyai kegunaan sebagai penahan panas, dingin, dan hujan. Adapun jenis yang baik adalah yang mempunyai model seperti topi koboy dengan bahan katun.
Balaclava atau kethu yaitu sejenis topi yang sekaligus menutupi seluruh kepala, yang terbuat dari bahan wol sangatlah tepat untuk menahan dingin ketika beristirahat atau tidur. Topi jenis ini dapat dilipat sehingga kalau perlu bagian muka bisa di buka.
Pada daerah dingin, seluruh darah akan mengalir ke hati dan otak sehingga anggota badan yang lain terutama ujung jari akan terasa dingin. Untuk menanggulangi permasalahan ini adalah : jaga kepala dengan topi atau balaclava agar otak terlindung dari hawa dingin. Kemudian, jaga agar bagian dada terlingdung sehingga organ-organ penting didalamnya tetap hangat dengan demikian darah akan mengalir dengan normal ke anggota tubuh lainnya.

Syal

Sebagai bahan tambahan untuk menjaga dingin digunung adalah syal. Syal ini dapat dilibatkan di leher sebagai tambahan penghangat bagian yang sangat terbuka, syal dipakai untuk menambah kehangatan dada dan perut disamping juga bisa sebagai pelindung mulut dan hidung dari debu. Ada baiknya syal berwarna menyolok sehingga kalau diperlukan dapat digunakan sebagai tanda keadaan darurat. Bilamana dibutuhkan syal dapat digunakan untuk mitela.


Celana dan baju lapangan

Karena perubahan suhu udara di gunung seringkali tidak bisa diduga, maka bahan maupun model pakaian harus disesuaikan dengan keadaan tersebut terutama untuk menjaga kehangatan tubuh, mampu menahan terpaan angin dan hujan, tahan duri serta mampu menyerap keringat.
Pakaian dari katun baik untuk dipakai, hanya sayangnya jenis ini tidak mampu menghangatkan tubuh bila dipakai dalam kondisi basah. Pakaian dari wol dapat menghangatkan tubuh kendati basah, sehingga jenis ini sangat baik sekali digunakan didaerah petualangan.
Mendaki gunung dengan celana pendek bukanlah cara yang baik, karena kaki akan gampang sekali tergores batu dan kayu, terkena lintah dan pacet. Celana yang baik untuk mendaki gunung adalah model knickers, yaitu celana panjang sedikit dibawah lutut.
Kesalahan yang sering dilakukan oleh para pendaki adalah memakai pakaian dari jeans. Pakaian dari bahan ini sangat sukar sekali kering dan berat apabila basah.

Ransel

Dalam melakukan pendakian kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa seluruh perlengkapan yang perlu akan terbawa dalam satu tempat. Untuk itu kita harus mempunyai ransel ukuran 80 – 90 liter agar semuanya tertampung.
Untuk memilih ransel yang baik harus kita perhatikan : sabuk penggendong, sabuk yang baik adalah sabuk yang dilapisi busa atau bahan lembut lainnya disamping itu sabuk tersebut harus cukup lebar sehingga beban merata di pundak, ransel yang baik juga harus mempunyai sabuk pinggang agar ransel dapat menempel di punggung tetapi fungsi yang lebih penting lagi agar berat ransel dapat dipindahkan ke pinggang dengan menaikan ransel sedikit lebih ke atas dan mengencangkan sabuk tersebut di pinggang.
Rangka eksterior sangat banyak sekali digunakan dalam pembuatan ransel, rangka ini dimaksudkan untuk membuat jarak antara ransel dan punggung agar benda-benda keras di dalam ransel tidak menyakitkan pemakaianya, kelemahan jenis ini adalah tidak dapat dibawa lari dan sulit dibawa masuk hutan rintisan. Disamping itu harus kita perhatikan pula luas ransel.

Velples


Botol minum yang tahan banting, yang sering di gunakan untuk berpetualang di alam bebas.
Senter
Senter merupakan perlengkapan vital lainnya dalam melakukan pendakian, agar perjalanan kita berjalan lancar ada baiknya membawa bohlam cadangan dan batu battry cadangan.


PERLENGKAPAN MASAK

  • Jligen air
  • Korek api
  • Nesting
  • Kompor lapangan
  • Bahan bakar ( Parafin, gas, spirtus )
  • Alat bantu makan

PERLENGKAPAN TIDUR

Matras


Untuk menambah kemampuan menghangatkan tubuh, matras atau lapisan busa harus di gelar di antara kantong tidur ( sleeping bag ) dan tanah. Akan lebih nyaman lagi bila kita menggunakan matras tiup.

Sleeping bag


Pada dasarnya ada dua jenis kantong tidur, yakni type persegi panjang yang dapat di gelar lebar seperti tikar ( lagi pula dua buah kantong tidur jenis ini bisa disatukan dengan menggabungkan risletingnya ), Type kedua adalah type mummi, kantong tidur jenis ini tidak bisa dibentangkan atau di buka tetapi lebih hangat dan ringan. Type kedua ini lebih baik bila dibandingkan type kedua.
Mutu kantong tidur ditentukan oleh kualitas bahan penghangat didalamnya. Bahan wol dan kapuk harganya murah tetapi terlalu berat dan besar, bahan dacron juga murah dan cukup hangat tetapi tidk bisa ringkas dalam membawanya, bahan yang terbaik adalah down atau bulu-bulu halus dari angsa / bebek jenis ini mampu menjaga kehangatan kendati suhu dibawah nol derajat.
Ada beberapa tehnik dalam menjahit kantong tidur yaitu kontruksi setik balik, dengan tehnik ini panas badan orang didalamnya masih bisa menerobos keluar lewat jahitannya yang tajam. Kontruksi tumpang tindih sedikit lebih baik dari kontruksi pertama. Kontruksi kotak memiliki tingkat kehangatan yang sama dengan tehnik setik balik. Kontruksi slant tubes adalah yang paling baik karena jahitan bagian dalam dan bagian luar akan saling menutupi.

Baju Hangat

Jaket dengan bahan down akan sangat berguna tetapi dalam keadaan basah tidak ada gunanya. Beberapa bahan dari serat sintetis seperti polyester ( Dacron,Fortrel ) dan Acrylics ( Orlon ) sedikit menyerap keringat tetapi cepat kering bila basah. Dacron Fiberfill II merupakan bahan yang terbaik karena lebih ringan dan tidak kuyup bilamana terkena hujan. Untuk mengetahuinya, biasanya di bagian leher tertulis nama bahan yang dipakai. Disamping itu sweater dari wol juga merupakan pilihan yang tepat.

Tenda / Dums
Dari bentuknya, tenda secara garis besar terbagi atas: type prisma, type piramid, dan type kubah. Ketiga type tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing, dimana yang akan dipilih itu sesuai selera kita.
Untuk memilih tenda yang nyaman perlu diperhatikan apakah tenda tersebut lembab didalamnya, ini terutama untuk tenda yang seluruhnya terbuat dari bahan kedap air sehingga air yang akan masuk dan keluar tenda tertahan. Pilihlah tenda yang mempunyai lembaran gantung ( Flysheet ) kedap air yang menutupi tenda serapat mungkin dan akan lebih baik lagi flysheet mempunyai tiang-tiang tersendiri. Selain itu perlu diperhatikan pula bagian alasnya, bagian ini harus dilapisi lembaran alas yang tebal dan kedap air. Dan pada pintu masuk dan jendela tenda harus memakai jaring tipis.

PERLENGKAPAN BANTU
  • Lentera atau lilin.
  • Peluit, selain sebagai alat bantu komunikasi dapat juga dipakai sebagai alat penghibur.
  • Payung, selain sebagai alat pelindung hujan dan panas dapat pula digunakan sebagai penampung air hujan.
  • Golok.
  • Cermin SOS.
  • Kaca pembesar.
  • Tali paramuka / Webbing / Tali rafia.
  • Kompas, Protractor, Altimeter, Peta, Busur derajat, Bolpoint tiga warna.
  • Kantong plastic.
  • Gelang karet.
  • Peniti.
  • Sandal.
  • Kamera photografi.
  • Pesawat komunikasi.

PACKING

Dalam hal pengepakan kita lihat dulu desain ransel yang kita bawa, berprame atau tidak, untuk itu kita perlu mengetahui kegunaan masing-masing ransel :

RANSEL BERFRAME


  • Kebaikan
dapat meletakkan bobot beban lebih tinggi dan dekat pinggang
dapat membagi keseimbangan dengan cara mengikatkan tali dipinggang
meringankan beban dan muatan banyak
  • Kekurangan
kurang enak dipakai untuk hutan rintisan
tidak bisa dibawa lari

RANSEL TANPA FRAME

  • Kebaikan
enak dibawa masuk hutan rintisan
dapat dibawa lari
muatan tergantung beban

  • Kekurangan
muatan beban terbatas
keseimbanagn beban berkurang
pengepakan kurang baik menyebabkan ransel mudah merosot


CARA PACKING

  • kelompokkan barang menurut fungsi masing-masing.
  • setelah dikelompokkan masukkan ke dalam tas plastik sesuai fungsinya, agar terlindung dari hujan dan tidak berantakan.
  • simpan barang yang ringan di bagian bawah dan yang berat di bagian atas, agar berat beban seluruhnya bertumpu di pundak.
  • Bagilah berat beban secara merata antara bagian kiri dan kanan.
  • letakkan barang-barang kecil dikantung ransel.
  • simpan barang yang sering dipakai ditempat yang mudah dijangkau, sedapat mungkin letakan sesuai tingkat kebutuhan misalnya perlengkapan tidur di bagian bawah, pakaian cadangan diatasnya, kemudian perlengkapan masak dan perbekalan , baru kemudian tenda diatasnya.
  • Memanfaatkan ruang yang ada di ransel seefisien mungkin misalnya ruangan di dalam nesting harus kita isi dengan gula, kopi, teh, atau mie instan.

Manfaatkan ruang yang kosong seefesien mungkin, karena barang yang kita bawa tentunya tidak sedikit, Selain itu kenyaman, teknik pengepakan ini bisa juga merupakan seni tersendiri. Bagaimana membuatnpacking itu sendiri tampak indah dipandang dengan tempat yang sedikit, salah satu seni pengepakan adalah dengan memasukan ransel pada sisi vertikal maksud dari cara ini agar bentuk ransel semakin jelas dan halus.
Monday, February 18, 2013

cara membaca arah mata angin menggunakan kompas

Kompas adalah alat yang berfungsi untuk menunjukkan arah mata angin. Dan bagi para petualang, haruslah mengetahui dengan benar tentang kompas dan kinerjanya. Bahwasannya, dengan mengetahui dan bisa membaca peta dengan arah kompas, maka kemungkinan akan tersesat menjadi semakin kecil. Penting sebenarnya bagi penggiat alam bebas, tetapi banyak yang belum menggunakannya.

Bagian - bagian penting dari Kompas :

1. Dial, adalah permukaan Kompas dimana tertera angka derajat dan huruf mata angin.
2. Visir, adalah lubang dengan kawat halus untuk membidik sasaran.
3. Kaca Pembesar, digunakan untuk melihat derajat Kompas.
4. Jarum Penunjuk adalah alat yang menunjuk Utara Magnet.
5. Tutup Dial dengan dua garis bersudut 45o yang dapat diputar.
6. Alat Penyangkut adalah tempat ibu jari untuk menopang Kompas saat membidik.



Cara Mempergunakan Kompas :
1. Letakkan Kompas di atas permukaan yang datar, setelah jarum Kompas tidak bergerak maka jarum tersebut dan menunjukkan ARAH UTARA MAGNET
2. Bidik sasaran melalui Visir, melalui celah pada, kaca pembesar, setelah itu miringkan kaca pembesar kira - kira bersudut 50o dengan kaca dial.
Kaca pembesar tersebut berfungsi sebagai :
a. Membidik ke arah Visir, membidik sasaran.
b. Mengintai derajat Kompas pada Dial.
3. Apabila Visir diragukan karena kurang jelas terlihat dari kaca pembesar, luruskan garis yang terdapat pada tutup Dial ke arah Visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah terlihat melalui kaca pembesar
4. Apabila sasaran bidik 30o maka bidiklah ke arah 30o. Sebelum menuju sasaran, tetapkan terlebih dahulu Titik sasaran sepanjang jalur 30o. Carilah sebuah benda yang menonjol / tinggi diantara benda lain disekitarnya, sebab route ke 30o tidak selalu datar atau kering, kadang-kadang berbencah-bencah. Ditempat itu kita Melambung ( keluar dari route ) dengan tidak kehilangan jalur menuju 30 derajat.
5. Sebelum bergerak ke arah sasaran bidik, perlu ditetapkan terlebih dahulu Sasaran Balik ( Back Azimuth atau Back Reading ) agar kita dapat kembali kepangkalan apabila tersesat dalam perjalanan.

Cara melihat Kompas dan membidik sasaran


Rumus Back Azimuth / Back Reading
1. Apabila sasaran kurang dari 180 derajat = ditambah 180 derajat
0 derajat – 180 derajat = X + 180 derajat

2. Apabila sasaran lebih dari 180 derajat = dikurang 180 derajat
180 derajat – 360 derajat = X – 180 derajat

Contoh :
30 derajat sasaran baliknya adalah 30 derajat + 180 derajat = 210 derajat
240 derajat sasaran baliknya adalah 240 derajat – 180 derajat = 60 derajat

Mata Angin
U = Utara : 0° atau 360°

TL = Timur Laut : 45°

T = Timur : 90°

TG = Tenggara : 135°

S = Selatan : 180°

BD = Barat Daya : 225°

B = Barat : 270°

BL = Barat laut : 315°

MENENTUKAN ARAH MATA ANGIN

Menentukan arah mata angin ( Utara Magnet ) dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan tanpa menggunakan kompas, antara lain :
1. Makam / kuburan orang Islam.
2. Tempat ibadah ( Masjid / Musholah ).
3. Terbitnya matahari / bulan.
4. Lumut pada pohon. ( sebelah kiri dan kanan batang pohon )
5. Pucuk / ujung daun pada pohon.

untuk melihat sumber klik disini

tips memilih kompor untuk berpetualang di alam bebas

Kompor adalah salah satu barang penting yang harus ada dalam kegiatan petualangan seperti pendakian gunung. Kegunaan kompor adalah untuk memasak dan bahkan juga bisa di gunakan sebagai pemanas badan sementara. dan anda harus tau apa kompor yang akan anda gunakan lesama anda berpetualang di alam bebas. apakah anda mau membawa kompor gas saat anda mendaki gunung??..tentu konyol bukan .., untuk itu saya buat artikel ini untuk pengetahuan anda agar anda dapat memilih kompor yang cocok untuk petualangan anda...

 berikut ini jenis kompor untuk petualangan yang sebaiknya Anda tahu.

1. KOMPOR GAS BUTANA
Kompor ini menghasilkan api biru yang baik sehingga makanan cepat masak dan tidak menyebabkan panci berkerak atau menghitam.


www.belantaraindonesia.org

Tetapi mudah sekali bocor apabila kepanasan, diperlukan pengemasan yang hati - hati dalam membawanya. Selain itu harga lebih mahal tetapi efektif untuk perjalanan pendek.

2. KOMPOR MINYAK TANAH
Kompor ini baik sekali untuk melakukan perjalanan yang lama dengan rombongan besar, karena penggunaannya lebih hemat dan lebih aman.

www.belantaraindonesia.org

Api yang di gunakan lama untuk memasak, sehingga menyebabkan panci hitam dan berkerak. Dan juga sulit dalam pengepakannya. dan perlu di perhatikan juga saat pengepakan pastikan didalam kompor tidak ada minyak tanah didalamnya.....

3. KOMPOR PARAFIN

www.belantaraindonesia.org

Kompor ini praktis dalam pengemasannya dan biasa di gunakan para tentara saat bertempur sehingga bisa digunakan di segala medan. Biasanya di gunakan sebagai cadangan apabila bahan bakar yang lain habis.

4. KOMPOR SPIRITUS CAIR

www.belantaraindonesia.org

Kompor ini bisa di gunakan memasak di dalam tenda saat cuaca hujan. Tetapi api yang di hasilkan kurang maksimal, dan biasanya hanya di gunakan untuk menghangatkan makanan.

Pastikan sebelum Anda berangkat untuk mengetes setiap peralatan kompor berfungsi dengan baik, sehingga perjalanan petualangan Anda tidak sia - sia.
mungkin itu saja tips yang bisa saya bagikan. terima kasih buat belantara indonesia atas tips nya....
kurang dan lebihnya mohon maaf....

TERIMA KASIH!!!

cara mempersiapkan fisik sebelum mendaki gunung

sebelumnya terima kasih buat belantara indonesia yang mau berbagi informasi .... oke langsung saja...
sebelum mendaki gunung apakah anda pernah bertanya apakah perlu mempersiapkan fisik  sebelum pendakian? jawabanya adalah perlu.... mengapa demikian? karena mendaki gunung adalah bukan perkara mudah apalagi untuk orang baru pertama kali mendaki gunung....nahh kali ini saya akan berbagi tips untuk mempersiapkan fisik kita agar tidak mudah capek saat melakukan pendakian.....
Persiapan fisik harus di lakukan untuk meningkatkan stamina, daya tahan tubuh dan kemudian menambah kekuatan fisik dan mental bagi pendaki gunung.
langsung saja nihh tipsnya....

MELATIH KEKUATAN PERUT
Lakukan sit up secara rutin setiap hari sampai hitungan 10 - 25 kali untuk mengencangkan otot perut agar terhindar dari kram.

MELATIH KEKUATAN LENGAN DAN DADA
Lakukan push up secara rutin setiap hari sampai hitungan 10 untuk mengencangakn otot dan meningkatkan stamina tubuh.

JOGGING / LARI
Berfungsi melatih kerja dari pembuluh kapiler agar bekerja untuk meningkatkan daya tahan dan memacu kerja jantung sehingga meningkatkan VO2 Max. lakukan 2 - 3 kali seminggu dan selama 30 - 45 menit. karena persendian yang terlatih akan terjaga kekuatan dan kelenturannya karena lari banyak menggerakkan otot kaki sehingga terlatih dan dapat mengurangi resiko cedera.

JOGGING DENGAN BEBAN
Jogging dengan membawa beban tertentu untuk membiasakan dengan kondisi di lapangan yang sesungguhnya. Mengangkat beban dengan berat tertentu untuk melatih kekuatan dan kebugaran otot sehingga faktor fisik tidak menjadi permasalahan dalam perjalanan pendakian.

MELATIH KEKUATAN BAHU
Lakukan pul up secara rutin setiap hari sampai hitungan 10 - 25 untuk menguatkan otot bahu yang menjadi tumpuan beban ransel.

LATIHAN ANGKAT BEBAN
Lakukan latihan angkat beban dengan barbel secara teratur dan berkelanjutan sehingga dapat dilakukan penambahan beban untuk mencapai hasil yang maksimal. Kemudian buatlah jadwal yang konsisten agar target yang akan dituju tercapai dengan baik, kemudian lakukan evaluasi untuk mengetahui perkembangan fisik.
  

Blogger Wordpress Gadgets